Jumat, 17 November 2017

Menimbang Rasa

Hai.., apa kabarmu.., ada apa denganmu,,? karena,, sekilas aku lihat kamu sedikit kurus, apa kamu baik2 saja..? 

Aku disini rindu akan hari2ku saat bersama kamu, namun sekarang berubah, disini hari2ku sepi, tidak ada lagi wajah untuk aku pandangi disetiap waktu, dan bibir yang tersenyum ketika melihat sifat kekanakanku mucul, tapi mulutmu itu selalu  pedas untuk mengritik ku, namun aku suka itu.

Aku rindu, sangat rindu,, otak ku penuh denganmu, aku ingin  membagi ceritaku, aku perlu kamu, aku bosan dengan kondisiku, kamu tau kan.., seseorang  selalu silih berganti datang ingin menyejukan hatiku, tapi kamu tetap, kamu tetap ada di sini, ya di hati ini,,! aku tidak pernah lupa dirimu, tapi ada kebencianku yang belum tuntas untuk rasa ini, aku yakin kamu tau perasaan itu.

Kamu tau.., jarak yang diciptakan antara pagi dan malam, tidak begitu jauh, bahkan sangat dekat, yaa.., seperti itulah aku dan kamu, terpisah oleh jarak yang sangat dekat namun aku tetap tidak memiliki kuasa untuk menggapaimu, apalagi ada mereka (masa lalumu), seakan membuat jarak kita semakin jauh karenanya.

Ada kalanya aku mampu menggapaimu dan hadirku menjadi tempat untuk menampung segala ceritamu, canda tawamu, senyummu yang tercipta indah karena tidak adanya mereka (masa lalumu) disisimu.

Perasaan apa ini, entah apa ini sifat jelek ku, tapi aku merasa itu tidak adil buatku..!

Yaank.., apa yang kamu lakukan membuatku cemburu, aku benci alurmu,, adil bagimu, tapi ini tidak adil bagiku, baik untukmu tapi tidak baik untuk ku.

Tentang kisah kita,,! Kamu, Aku, Dia dan Dia.

Haruskah seperti ini, Kamu dan Dia, diriku dengan dirinya, lalu kenapa kamu membuat seolah cintamu memang nyata kepadaku, biarkan saja aku pada waktu itu dengan perasaanku sendiri, yang mungkin akan memudar jika tidak kamu hiraukan rasaku.

Kenapa kamu harus menyakitinya untuk perasaan yang bahkan tidak bisa kamu yakini, kamu wanita ter egois yang pernah kukenal, kamu membuatku percaya bahwa cinta bertahta di hatimu, dan ketika aku percaya, lalu kenapa saat ini kau mulai membedakan aku dengan mantanmu, yang aku tau, kamu selalu mengalah untuknya, berusaha mengerti perasaannya.

Adilkah ini untukku..? aku tidak pernah memintamu untuk mencintaiku, kita bertemu dan mengucap janji, lalu, apa salah jika aku percaya, saat itu langkahmu begitu ringan untuk pergi meninggalkan nya dan menuju kepadaku dengan membawa buah masa lalumu, lalu dengan alasan apa kamu masih bisa berbaik hati kepada lelaki yang sudah 13tahun menjadikanmu tulang punggung.

Rasa macam apakah itu.., keadaan ini sungguh sulit, kalau keadaan nya seperti itu, aku tidak cukup punya arti bagimu, tapi kuakui aku merasa bahagia, meski kenyamanan tidak berpihak kepadaku, rasanya tidak adil, kamu lebih menyamankan dia daripada diriku, lihatlah dia yang saat ini nyaman dengan hidupnya tanpa beban bahkan kepada darah dagingnya sendiri pun, apakah seperti ini caramu membencinya.

Lalu kenapa dulu memilih pergi..?, jika seperti ini kamu hanya mempermainkan 2 lelaki sekaligus, lalu apa ini bisa dinamai cinta buatku, dan benci kepadanya.

Allah memang punya rencana, namun ketahuilah, Allah juga ingin aku berfikir kembali, lalu pertanyaannya sekarang bagaimana aku harus menerima rasa tidak adil darimu, haruskah aku ikhlas menerima yang kamu bawa dari masa lalumu..? sungguh.., rasa ini tidak adil bagiku, mungkin adil bagimu tapi tidak bagiku.

Kamu mungkin bisa saja bersikap kasihan  kepadanya dengan memberikan hak anak kepadanya tanpa sedikitpun kamu melihat haknya yang harus dipenuhi kepada anaknya, tapi biarlah.., perlu kamu tau, AKU dan DIA tidak ada satupun diantara kami yang tidak mau tau dengan buah pernikahan kami, dan haruskah kukatakan bahwa dia (masa lalumu) harusnya lebih tahu diri.

Haruskah aku ingatkan dari sekarang, Dia (masa lalumu) tidak menjadi bayangan yang dapat mengusik kebahagiaan kita nanti, harusnya dia sadar kalau memang kamu terbaik untuknya mengapa menyengsarakanmu begitu hebatnya setelah kamu pergi dan kamu mengapa begitu bodohnya selalu memberikan dia kenyamanan untuk hidupnya.

Tidak perlu lagi rasanya kujelaskan, karena segalanya jelas kamu tau, seharusnya kamu juga tau, kamu pernah dikecewakan olehnya kemudian terpuruk begitu parahnya, lalu kamu mencintaiku seakan aku mampu mengobati lukamu pada saat itu, entah bagaimana perasaan itu tumbuh untukmu namun ketahuilah bahwa setiap kali kamu mengadu padaku karena dia (masa lalu), aku juga terasa sakit, seakan aku mampu merasakan bagaimana sakitmu, setiap kalimat yang kudengar, aku merasa ingin berada disampingmu kala itu.. untuk menguatkanmu, untuk menjagamu namun apa daya lautan menjadi penghalang besar kita saat itu.

Kini kamu sudah bersamaku dan meminta untuk mengenggam tanganmu, menjadi penyemangatmu untuk menata masa depan, aku belum lupa sedikitpun dengan janji kita dengan tujuan memulai kebahagiaan bersama, tapi,, apakah adil, apakah kamu tidak berpikir bahwa apa yang aku terima nanti, lain dengan apa yang kamu berikan kepadanya.

Maaf.., sebesar apapun aku mencintaimu namun kamu sudah jelas tau, aku juga ikhlas kehilangan kenyamananku sendiri demi kebahagiaan yang bernama masa lalu (KAMU).

Dia yang dulu pernah bersamaku, memilki masa lalu (buah hati), sama sepertimu, dan aku memintanya untuk pergi dan membuat kebahagiaan sendiri, sejujurnya ketahuilah,, aku lebih memilih ikhlas kamu bersama dia daripada kau harus bersamaku namun tetap selalu ada bayang2 dia diantara kita nanti, dan rasanya itu sungguh tidak nyaman  sekarang pikirkanlah bagaimana kamu harus bersikap sebagai orang yang memiliki keadilan dan tanggung jawab pada masa depan, tidak hanya untukmu namun juga untuk masa depanku.

Ketahuilah.., tidak ada satupun manusia di dunia ini yang rela melihat kekasihnya berbagi hati, di dunia ini yang berbagi hati kepada yang lain memang mungkin ada, tapi percayalah, kebahagiaan yang seperti itu hanya ada untuk sesaat, tidak bertahan selamanya, sedangkan kita butuh kebahagiaan yang bisa kita rasakan sampai kita menua bersama dan kembali bersama ke sisiNYa, tidakkah kamu berpikir hal seperti itu bersamaku..? tapi aku tidak memaksa kamu mengikuti alurku, kamu hanya perlu tegas kepada masa lalumu untuk buah masa lalunya, fikirkanlah..,

Aku menuliskan ini karena.., aku merasa sangat takut namamu akan hilang dalam hatiku karena keadaan itu, sejujurnya.., aku tidak mau kamu hilang, bahkan berniat mengganti dirimu saja aku tidak mau, sudahlah.., aku tidak mau membuatmu risih dengan uneg2ku, biarkan waktu menyelesaikan tugasnya sembari menunggumu memikirkan hal itu, aku yakin suatu saat kamu akan mengerti maksudku, dan.., untuk saat ini aku ingin sendiri disini, menunggumu datang dan berlari kearahku.

Oh iyaa.., seandainya ada wanita dengan beraninya mengatakan bahwa dia menyukaiku, wanita itu mengatakan dengan tegas; “aku sudah lama memperhatikanmu, dan aku memperhatikan setiap apa yang kamu lakukan dan itu membuat aku menyukaimu”, aku pastinya akan berfikir bagaimana bisa aku untuk menyukainya, karena aku telah bersama kamu, bagaimana aku harus bersikap untuk perasaan ini..?

Sekarang aku bertanya kepadamu..? ketika aku diperhatikan dari jauh dengan rasa yang begitu dalam, tapi rasaku padamu memenangkannya ketimbang rasa dia padaku, jadi tidak mungkin aku meninggalkan rasaku padamu demi rasanya padaku, bukankah itu adil..?

Tenang sayang, aku akan berlaku adil pada perasaan ini, aku akan menjaga namamu disini, jadi kamu tidak usah khawatir tentang sesuatu yang tidak mungkin, bagaimana mungkin seseorang yang baru datang memperlihatkan cintanya sekaligus usahanya padaku yang jelas2 jauh tertinggal dengan dalamnya perasaanku padamu..?, aku akan mengadili perasaanku secara adil.

Tapi aku juga berfikir, sampai kapan pun, kita akan sulit untuk bersama, yang semuanya karena kondisimu, dan maukah kamu mengadili perasaanku ini seperti aku mengadili semua rasaku..? cobalah buka mata dan hatimu, bisakah Aku, Kamu nanti memiliki pengertian dan kesabaran menghadapi kehidupan dengan bayang2 masa lalu kita..? sungguh.., aku terlalu lama fikirkan hal ini, sangat rumit tentang pegadilan hati sayang

Sebelum kujatuhkan hatiku, sebelum terlanjur menikahi kamu, dan agar aku tidak merasa salah sangka, juga agar kamu tidak merasa cinta sendiri, izinkan aku menimbang rasa, andai rasamu sama seperti yang aku rasa, rasamu adalah rasaku, pasti akan aku titipkan utuh hatiku kepadamu, tapi jika rasa ini berbeda, biarkan aku pendam kembali, agar tidak lagi hati ini terluka karena tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Ingin sekali rasanya mengatakan segala yang kupikirkan, segala yang kurasakan tentang dia, mereka (masa lalumu), bahwa dia yang senantiasa kamu mudahkan, mereka yang selalu kamu banggakan kepadaku, sepertinya kamu tidak menginginkanku setulus rasaku, nanti aku hanya seseorang yang sedang menampung ceritamu.

Sayang, aku memang bukan kekasih yang baik. tapi.., aku adalah orang yang setia, setia menemanimu sambil menghabiskan secangkir kopi yang hampir dingin, setiap mendengarkanmu bercerita.

Jika boleh aku mengingatkanmu pada satu hal, bahwa hatiku senantiasa mencintaimu, senantiasa terbuka untukmu, tapi, jika kamu tidak kunjung tegas dengan masa lalumu, akan aku tutup rapat hatiku untuk namamu, membiarkanmu di luar sana sendirian, dan tidak lagi akan aku perdulikan tentangmu, juga tentangnya (masa laluku).

G@l!p0n9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar