Aku ini manusia.., pernah menangis, pernah tertawa, pernah “tinggi” pernah juga rendah dan “jatuh”, pernah sangat hati2, pernah juga sangat ceroboh.
Kemaren aku bilang, aku sedih, tapi sekarang aku bilang, aku gembira, tapi ada juga yang mengira aku gila, dan mungkin itu betul, tapi sebetulnya saat DIA menyebutku gila, DIA juga gila, aku terperangkap oleh kata gila yang aku sendiri bingung menjelaskan kegilaan yang kurasakan.
Dulu Aku pernah memegang pisau, dan dengannya aku pernah ingin mengiris nadiku, tapi aku tau, bahwa tawamu yang terbahak bagai setan itu mengurungkan niatku karena ternyata kamu sudah menungguku di gerbang neraka, aku juga pernah melarikan motorku, bukan sekedar lari tapi berkelebat cepat laksana pembalap tingkat nasional pada kecepatan 120km/jam demi mengejar kematian, tapi aku tau, seringai buasmu bak serigala itu membuatku mendadak menginjak rem sampai habis, pengejaran ujung nyawa itu berakhir karena aku tidak mau mati demi setan berjubah yang berpesta pora di neraka sana.
Aku ini laki2, tetapi kadang bisa seperti wanita, hatiku lembut, tapi aku kuat dan tangguh. bicaraku keras dan hampir terdengar kasar, itu karena aku tegas kepada para pecundang dan petarung jalanan yang pengecut, aku suka bertarung, tapi aku juga singgah didapur untuk memasak, meskipun hanya bisa menggoreng telur. dan aku juga mencuci sendiri bajuku.
Dulu Aku pernah memegang pisau, dan dengannya aku pernah ingin mengiris nadiku, tapi aku tau, bahwa tawamu yang terbahak bagai setan itu mengurungkan niatku karena ternyata kamu sudah menungguku di gerbang neraka, aku juga pernah melarikan motorku, bukan sekedar lari tapi berkelebat cepat laksana pembalap tingkat nasional pada kecepatan 120km/jam demi mengejar kematian, tapi aku tau, seringai buasmu bak serigala itu membuatku mendadak menginjak rem sampai habis, pengejaran ujung nyawa itu berakhir karena aku tidak mau mati demi setan berjubah yang berpesta pora di neraka sana.
Aku ini laki2, tetapi kadang bisa seperti wanita, hatiku lembut, tapi aku kuat dan tangguh. bicaraku keras dan hampir terdengar kasar, itu karena aku tegas kepada para pecundang dan petarung jalanan yang pengecut, aku suka bertarung, tapi aku juga singgah didapur untuk memasak, meskipun hanya bisa menggoreng telur. dan aku juga mencuci sendiri bajuku.
Aku lelaki, tapi aku bukan penakluk wanita yang penuh dengan rayuan gombal, dan aku masih harus terus belajar memaknai hidup, walau, usiaku sudah lebih dari cukup untuk menjadi seorang kakek.
Dulu aku juga pernah jatuh cinta sampai ber-darah2, tapi bukan berarti aku tidak bisa sembuh, hanya perlu waktu, karena kata bu dokter, resepnya harus terus ditebus, itu artinya, perlu kesabaran tinggi, baik yang dibimbing maupun yang membimbing.
Hari ini, aku ingin menangis sambil menulis, atau tepatnya menulis sambil menangis, bukan karena cinta, tapi karena kata, kata memang sungguh bahaya, ia begitu bermanfaat bila disampaikan dengan baik, tapi begitu sakit bila dipakai untuk menusuk, sekarang aku akan mengakhiri tulisan ini dengan menghentikan tangis, lalu aku ukir senyum dipenghujungnya. Sambil kucoba merangkai kata ini:
“Tertawalah kamu diatas penderitaanku, maka aku akan BAHAGIA untuk kebahagiaanmu..”
Hari ini, aku ingin menangis sambil menulis, atau tepatnya menulis sambil menangis, bukan karena cinta, tapi karena kata, kata memang sungguh bahaya, ia begitu bermanfaat bila disampaikan dengan baik, tapi begitu sakit bila dipakai untuk menusuk, sekarang aku akan mengakhiri tulisan ini dengan menghentikan tangis, lalu aku ukir senyum dipenghujungnya. Sambil kucoba merangkai kata ini:
“Tertawalah kamu diatas penderitaanku, maka aku akan BAHAGIA untuk kebahagiaanmu..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar