Jumat, 16 Juni 2017

Terlalu Bodoh



Mungkin, dari awal memang aku yang salah karena terlalu cepat percaya diri bahwa perhatian yang Dia beri padaku adalah bentuk perasaan cintanya, tanpa aku tau bahwa itu hanyalah sebuah perhatian kasih sayang dari seorang saudara, jadinya aku yang salah, terlalu berharap bahwa kita bisa menyatu.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku saat dipertemukan kembali dengan Dia, lebih tepatnya pada kita, mengapa rasanya semua berjalan begitu cepat, tiba2 saja Dia sudah menyita seluruh isi pikiranku, kehadiran nya di sampingku selalu kuharapakan, kita mulai dekat, bercanda, juga tawa, Dia membawa perasaan lain di hatiku ketika aku menatap matanya, berbicara dengannya, bercinta dengan nya, perasaan yang benar2 membuatku nyaman, membuatku tidak ingin beranjak dari sisinya sedikitpun.

Hidupku menjadi terasa berbeda karena kehadirannya hitam dan putih yang biasanya mengisi hari2ku terasa lebih berwarna, lebih hidup ketika Dia hadir untuk mengisi ruang kosong di hatiku yang pernah Dia huni di masa lalu, dan perasaan ingin memilikinya tumbuh lebih cepat daripada yang kuduga.

Aku merasa tersiksa karena perasaan ini, sebisa mungkin aku berusaha untuk menyanggah perasaanku padanya, berusaha menghindari perasaanku sendiri. tapi semua sia2 karena Dia tetap hadir tanpa lelah menghuni hatiku.

Dan, tiba2..,

Aku merasa takut dan khawatir akan kehilangan sosoknya, tidak bisa kubayangkan apa yang terjadi jika aku harus pergi dari hidupnya, aku sulit jauh darinya, aku heran apa yang menyebabkan aku takut kehilangan yang bukan milikku..? Salahkah aku dengan perasaanku.

Entah mengapa aku merasa bahwa Dia tidak sejalan dengan yang aku rasa, perasaan kita berbeda tentang kelanjutan hubungan ini, Dia memburamkan janji2 itu.

Apa yang salah dariku..?

Mungkinkah Dia tidak mengerti sedalam apa perasaanku, jadinya Dia hanya mengabaikan ketulusanku dengan memburamkannya.

Salahkah aku tetap berharap pada setiap air mata yang menetes untuknya..?

Salahkah aku memiliki perasaan ini..?

Saat ini.., aku dalam keadaan yang tidak baik, aku kembali terkoyak seperti 22 tahun lalu, hampir aku menyerah jalani hidup ini, aku berfikir Dia lah puncak kebahagiaanku, aku berfikir Dia tidak akan menyakitiku seperti perempuan2 itu, bodoh.., ternyata aku salah, Dia mengajakku berjalan ke puncak gunung, (yang kata nya), menerjang badai, susah senang bersama, tapi nyatanya..? Nyata2 Dia berhenti ditengah jalan, tinggalkan aku, menyuruh aku menunggunya dan Dia bilang ini jalan yang terbaik demi anak2, hmmm.., untuk anak2 ataukah untuk lelakimu..?

Hey..! Sadarlah..! Ini menyakitkan dan benar2 menyakitkan untukku, ini bukan yang terbaik untuk ku sama sekali BUKAN yang terbaik.

Ya Allah..,

Tolong.., tolong bantu aku menuju jalan pulang, aku tersiksa menatapinya dengan dia, karena topeng belas kasihan, ternyata.., hukum alam bekerja sempurna. kita membuat janji2 itu dan Dia juga yang melupakanya, karena Dia tidak mau berajak sedikitpun dari tempatnya.

Ah sudahlah.., mungkin Dia lagi puber dan mungkin saat ini masa2 pubernya telah usai, sungguh ini sakit, kalau saja memory otakku bisa di ganti seperti memory card pada HP, mungkin aku tidak seterpuruk ini, Dia berhasil me-robek2 perasaanku, aku kira Dia sudah berubah, karena katanya sudah menemukan cinta sejatinya, tapi ternyata.., tetap saja Dia mencabik-cabik perasaanku, dengan cara yang lain bahkan lebih menyakitkan.

Dia sembunyi dari keadaan..,

Lucu ya.., setelah banyak hal yang aku lalui, setelah aku termakan oleh janji yang aku buat dengannya, dan tiba2 Dia memburamkan nya, hmmm..,

Saat ini..,

Disini aku masih menyusun kepingan hatiku yang berhasil Dia pecahkan, dan.., semoga Dia sudah tertawa bahagia disana.

Kadang aku merasa begitu tolol mengemis cinta padanya, tetap mengharapkannya walaupun itu sia2, dan bodohnya aku, masih saja aku mengeluarkan air mata untuknya, masih saja di sudut2 otak ku ada Dia, aku bukanlah orang munafik yang suka membohongi diri sendiri, dan jujur aku belum bisa melupakannya.

Kini, masih bisakah aku menaruh harapan yang tidak kunjung menjadi nyata..? aku baru menyadari bahwa Dia begitu sulit kuraih, begitu jauh dari genggaman tanganku, aku harusnya menyadari posisiku saat itu.

Entah, telah berbagai cara untuk membencinya, tapi aku gagal, aku masih tidak percaya, atas berakhirnya kisah ini. aku lelah.., akan selalu lelah menunggu.., menunggu sesuatu yang tidak pasti.

Tapi..,

Tenanglah.., tidak usah khawatir, aku bisa memendam perasaan ini, karena jika aku menjelaskannya pun Dia tidak akan pernah bisa mengerti, semua akan menjadi sia2, aku akan berusaha untuk melepaskan semua harapanku kepadanya, aku akan berusaha mengubur sisa2 rasa bahagia ini dalam dasar hatiku, seperti dulu, agar tidak ada seorangpun yang bisa mengambilnya, agar Dia mengerti betapa besar aku berharap.

Dan..,

Tidak usah Dia ajari aku bagaimana cara merindukannya, aku lebih tau itu.., juga tidak perlu Dia ajari aku bagaimana caranya melupakannya karena saat ini hari2ku lagi sibuk memunguti serpihan hatiku, dan pastinya Dia juga tau kalau aku berbohong kalau aku dengan mudahnya bisa membenci dan melupakannya, selamanya aku tidak akan bisa, dan Dia pasti tau kalau aku selalu sulit lepas dari bayang2 tentangnya.

Dan, sekarang..,

Menjauhlah.., jangan dekati aku lagi, aku tidak ingin perasaan ini terus-menerus mengiringiku tanpa bisa menjadi nyata, aku lebih memilih untuk dekat dengan sepi dan luka dan aku yakin Allah ada didalam jiwa2 yang terluka, biarkan aku sendiri yang mengobati hatiku, karena aku lebih mengerti diriku.

Terima kasih untuk luka yang Dia beri, kisah ini terbuang sia2.., tapi jangan dulu mengira aku tidak bisa melupakanmu, suatu saat nanti.. aku yakin dengan perlahan-lahan.., "waktu dimana aku bisa melupakanmu pasti datang.

Maafkan aku karena sudah terlalu berharap.

G@l!p0n9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar