Minggu, 12 Februari 2017

Aku meminta

Aku meminta Allah untuk menyingkirkan deritaku.
Allah menjawab “Tidak! Itu bukan untuk kusingkirkan. Tetapi agar kau mengalahkannya.”

Aku meminta Allah memberiku kesabaran.
Allah menjawab “Tidak! Kesabaran adalah hasil kesulitan. Itu tidak dihadiahkan, itu dipelajari.”

Aku minta Allah kebahagiaan.
Allah menjawab “Tidak! Penderitaan menjauhkanmu dari perhatian duniawi, dan Akan membawamu dekat kepadaKu.”

Aku minta Allah segala hal agar dapat menikmati hidup.
Allah menjawab “Tidak! Aku memberimu hidup sehingga kau dapat menikmati segala hal.”

Aku baik baik saja

Malam ini langit begitu cerah, terasa semilir angin yang menyejukkan hati.., kurentangkan kedua tangan sambil merasakan betapa indahnya malam ini dan kurasakan.., aku baik-baik saja.., setelah beberapa bulan bersama dan dengan segala rencana yang tiba2 hilang begitu saja, meninggalkan kenangan, melupakan perjuangan dan hanya menitipkan luka dengan kata "maaf".

Di situ aku hanya bisa diam, mencoba berpikir ulang, mencoba sabar dan mencoba meyakini, Allah punya rencana yang lebih indah dari semua ini, banyak orang bilang..; bertahan untuk tidak mengungkapkan dan bertahan untuk tidak memiliki itu rasanya lebih buruk dari patah hati, tapi itu tidak berlaku buatku, karena dari situ aku bisa mengambil banyak pelajaran berharga yang membuatku menjadi lebih tangguh dari biasanya.

Tidak butuh waktu lama untuk mengikhlaskan, cukup singkat mungkin, hanya beberapa minggu saja karena aku punya Allah yang selalu memelukku dan membuat nyaman saat aku mendekatkan diri pada-Nya, dan itu adalah rasa yang jauh lebih indah dari rasa yang pernah aku rasakan.

Terima kasih pernah menawarkan harapan untukku, karena, saat ini:
  • Aku lebih dekat dengan Tuhanku.
  • Aku lebih merasakan betapa hebatnya menjadi orang yang sabar.
  • Aku lebih berpikir positif mengambil hikmah, pelajaran dan pengalaman dari kisah hidup.
  • Aku menjadi pribadi yang lebih baik dari diriku yang dulu.

Untuk kalian yang pernah mempunyai kisah yang sama dalam cerita ini, sayangi diri kalian, dan cintai Tuhan, yang sudah menggariskan kisah yang indah, dan itu akan diberikan di waktu yang tepat menurut-Nya, bukan menurut keinginan kalian.

Berdamailah dengan keadaan dan berdamailah dengan ketetapan-Nya, maka kalian akan merasakan rasa yang jauh lebih indah dari rasa yang pernah aku rasakan.

Dariku.., yang menulis kisah dengan senyuman.

Sabtu, 11 Februari 2017

Seharusnya indah.

Seharusnya seperti ketika angin berhembus dan terdengar gemerisik dedaunan, serta beberapa helai terjatuh. Seharusnya seperti saat rintik hujan yang mengiringi pagi..,  Seharusnya begitu..!

Dan kuakui begitu. ketika mata milikmu berada tepat dihadapanku, ketika cekungan yang berada pipimu menampakkan diri, dan ketika keluar rentetan kata tanpa jeda dari kamu atas aku padahal aku sedang suntuk, tapi yang lalu sudah berlalu, seiring menjauhnya punggungmu, seiring diamnya ponselku yang menandakan kamu sedang tidak berada disana membaca pesanku, seiring aku memalingkan wajah saat kita memang seharusnya berpisah.

Aku takut akan apapun yang sedang berlangsung, kita hanya dua orang yang tidak sengaja bertemu di persimpangan dan akhirnya memutuskan untuk berjalan beriringan, denganmu yang bermula tidak bertujuan, namun akhirnya mengajakku ke suatu tempat, tapi aku sejak semula telah memiliki tujuan yang tidak pernah mampu kucapai, sudah lelah aku melangkah, berlari, bahkan mencoba melayang, tujuanku seolah menjauh. 

Namun alam beberapa kali mengajak bercanda, menghadirkan fatamorgana akan tujuanku, menyuruhku untuk bersyukur dan tersungkur pada suatu masa, Kamu pikir itu mudah..?

Cerita yang telah aku jalani sudah tidak lagi sederhana, dan kamu dihadirkan semesta untuk menyederhanakan nya, bukannya aku tidak menghargai suasana tenang dan damai seperti ketika sore hari kita menyusuri jalan, hanya saja, aku masih ingin menyelami dunia, mendaki gunung2, untuk bisa memandang alam dari ketinggian.

Dan ketika kini kamu mendapatiku tidak berada disisimu, menceritakan hari2ku ketika malam menjelang, dan merawat luka2 kecilku, kuminta kamu untuk tersenyum saja tanpa perlu menggambar angan2 pada langit dunia kita, cukup genggamdan simpan dalam hati saja.

Jumat, 10 Februari 2017

lihatlah dia

“Ketika suami sedang tidur, selalu perhatikan apakah jantungnya masih berdetak dan ia masih bernafas, karena saat ia tidur kamu dapat melihat ketulusan dalam wajahnya, 

Dia bagaikan malaikat yang selalu menjaga dan melindungimu, dia rela mencari nafkah dari pagi sampai malam untuk dapat memenuhi semua keperluanmu, dia tidak pernah mengeluh, padahal dalam setiap telapak tangannya yang kasar terdapat berjuta kelelahan yang ia sembunyikan darimu.

Ketika kamu meminta dia selalu memberi, tapi kamu belum bisa memberikan cintamu, maafkan dia, semoga saja kelak kamu dapat memberikan cintamu, dan dimasa tuanya semoga dia dapat membuat kamu bahagia”

Kamis, 26 Januari 2017

Berdamai Dengan Hati

Sungguh skenario Allah itu memang tidak terduga.

Dari sekian lama waktu berlalu kenapa kau datang disaat sekarang..?
Dari sekian banyak orang kenapa aku yang bertemu denganmu..?
Dari sekian banyak hati kenapa kau datang ke hatiku..?

Berawal dari sebatas hubungan saudara berubah menjadi hubungan yang dekat yang entah apa baiknya kusebut, setiap hari saat terbangun sampai saat terlelap kita berkomunikasi, seakan sudah menjadi kewajiban untuk kita mengetahui kabar masing2, kita sudah saling memahami sifat satu sama lain, saling perhatian dan sampai pada akhirnya.., "kembali berpisah".., jelas  ada rasa dalam hubungan kita, tapi sangati tidak mungkin menamai hubungan ini.

Aku hanya manusia biasa yang tentu saja punya harapan, berharap bahwa memang kita akan bersama, kadang logikaku kalah dengan perasaan rasional yang setiap hari semakin kuat rasanya, aku harusnya sadar bahwa ini adalah suatu harapan yang salah, atas nama cinta pun ini tetap saja sebuah kesalahan, hanya ego yang bisa membenarkannya.

Bagaimana aku bisa terus ingat untuk berpikir rasional kalau kamu selalu ada, selalu memberi perhatian yang tentu saja membuatku terlena dengan rasa ini, tapi sering aku berfikir saat kamu menghubungiku  mungkin itu hanya disaat kamu sedang bosan, sedang tidak ada pekerjaan, atau mungkin sedang tidak ada dia disisimu.., 

Ya, mungkin aku hanya menjadi teman/cadangan untukmu, disaat kamu butuh.

Aku memang  menjalani nya dengan sukarela, dan akupun tidak menuntut apa2 darimu, karena kapan kamu membutuhkanku aku pasti ada untukmu, selalu begitu.., mungkin aku yang terlalu banyak berharap, sedangkan kamu hanya sebatas menjalani, kalaupun tidak bisa bersama itu bukan masalah besar, karena aku mencintai dan menyayangimu dengan tulus, dengan apa adanya dirimu sehingga apapun yang terjadi.., aku terima.

Sungguh aku tidak menyalahkanmu, aku sendiri yang salah kenapa memulai sesuatu yang salah, tapi sialnya bagiku, kenapa disaat aku  sudah berusaha sekuat mungkin untuk menjauh darimu, ada saja jalan untuk kita berhubungan lagi, aku harus selalu berkomunikasi denganmu, padahal aku sudah lelah dan ingin menyudahinya, karena sakitnya harus menikam hatiku sendiri di setiap detik yang kulalui.

Terima kasih sudah memberiku ku pelajaran sehingga aku tau rasanya sakit, agar aku bisa lebih menghargai perasaan orang lain.

Terima kasih sudah memberiku pelajaran sehingga aku tau bagaimana harus bersikap ikhlas karena tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan.

Semoga aku bisa berdamai dengan hatiku sendiri, menyembuhkan lukaku sendiri, dan dengan caraku sendiri.

G@l!pong

Minggu, 08 Januari 2017

1 Bulan Setelah pertemuan kita

Dengan pikiran yang masih tertuju padamu. aku kembali mengingat hari2 itu, hari saat aku bersama kamu, aku ceritakan lagi ya..;

Jauh sebelumnya.., rencana pertemuan itu harusnya di bulan nofember 2016, tapi karena kesibukan kerja, atau mungkin hanya alasanku saja untuk mengulur waktu.., atau...!? aku saja yang sebenarnya belum siap untuk bertemu kamu, yaa..!? belum siap, karena masih ada keraguan atas dirimu, masih ada trauma dalam jiwaku yang di sebabkan olehmu, jadinya setiap hari aku selalu berfikir sesungguhnya kamu yang sekarang seperti apa..? , tujuanmu ingin bertemu untuk apa, ingin membuktikan apa..?, karena tidak cukup bagiku hanya melihat gambaran dirimu lewat foto yang terpampang di FB aku bisa tau akan jiwamu, pemikiranmu, dan juga sifatmu.

Saat itu.., hati ini ingin menemui cintanya, tapi otak ini bekerja terlalu pintar untuk selalu mengingatkan hati, agar selalu mengingat apa yang sudah kamu lakukan kepadaku dimasa lalu, banyak orang sangat meyakini bahwa kekuatan pikiran dapat membawa manusia dapat mencapai tujuannya, dan memang, tidak diragukan lagi, barang siapa yang dapat mengarahkan pikirannya selalu kearah positif, maka diyakini bahwa hasilnya adalah sesuatu kehidupan yang positif begitu juga sebaliknya.

Meskipun demikian, aku sebagai manusia yang lemah, menyadari bahwa tidak hanya mengandalkan kekuatan otak semata, bukan hanya mengandalkan akal dan kekuatan pikiran semata, karena masih ada kekuatan lain yang lebih dahsyat dari kekuatan otak, akal dan pikiran, kekuatan ini bukan hanya mengantarkan manusia meraih duniawinya namun juga mampu mengantarkan manusia pada kemuliaan hidup, yaitu; kekuatan hati, kekuatan hati memiliki kedahsyatan yang melebihi kekuatan pikiran manusia, karena hati adalah rajanya.

Karena hal itulah, hati ini mengabaikan fikiranku, hati menguasai fikiran dan seluruh anggota tubuh ini untuk ber sama2 menemui cintanya.., oh iya, bicara soal hati.., bukanlah Raja yang menguasai hatiku, sudah lama diri pribadi ini tidak duduk disana, hatiku diduduki oleh sang Ratu, dan kamu perlu tau, Ratu itu adalah kamu, dia yang selama ini melekat disana dan menjadi judul dalam hidupku.

Aku adalah seseorang yang kuat, dan sudah kubuktikan itu disaat aku menapaki jalan kehidupanku, aku adalah jiwa yang mandiri, selalu berusaha tersenyum saat cobaan menerpaku, aku terbiasa hidup tanpa mengkhawatirkan diriku, tapi.., aku lemah karenamu, entah mengapa aku tidak bisa berbuat apa2 terhadapmu, aku terlalu takut untuk menyakitimu, tapi disaat aku lemah seorang "kamu" juga bisa menguatkanku, dia menguatkan tekadku untuk segera bertemu denganmu.

Pada awalnya.., stasiun K.A senen, Rabu, 09:40, 7 desember 2016.

Kita bertemu.., memang ada kesepakatan kalau kamu yang akan menjemputku, tidak ada rasa canggung sedikitpun saat pertama kali aku menatap kamu yang selama 22 thn tidak pernah berjumpa, hahaha.., justeru kamu yang malah terlihat kedeer.., saat menyapaku, kalimat bicaramu dan rencana2 yang sepertinya sudah kamu susun jadi berantakan setelah melihatku, hahaha..., sekali lagi aku tertawa. (dalam hati)

Tidak banyak yang kita bicarakan ataupun kita utarakan saat berdua'an, kita hanya saling menatap, saling berbagi senyum, dan mengulang saat2 lampau dimana kita berdua selalu berpegangan tangan, saat itu kita seperti saling memendam rasa yang sepertinya siap meledak, entah rasa apa..?, rasa buah mungkin, tapi buah apa..?, mmmmm..!?

Siang itu.., tibalah kita di kota bogor, entah apa itu rencanamu, yang jelas bukan rencanaku.., hehehe..disini kamu sudah sedikit pyuur dari sebelumnya, apalagi saat kita makan di taman topi, natural sekali kita bicara, tapi aku tidak bisa ingat apa yang kita bicarakan saat itu, yang jelas aku menemukan separuh dari hatiku yang hilang, kutemukan diriku yang seutuhnya, aku benar2 kembali menemukan jiwaku yang hilang 22thn yang lalu, tidak ada yang mengira kalau orang yang berada bersamaku saat itu adalah orang yang pernah merusak jiwaku, membuat diriku terperosok kedalam lautan dosa karena tidak bisa menerima kenyataan hidup, terpisah dari kamu, tapi sudahlah.., tidak perlu aku ungkit itu, toh tidak akan pernah bisa mengembalikan cita2 dan masa depanku.

Tibalah saat lelahku datang, dimana aku ingin tidur untuk melepas lelahku setelah semalaman di atas kereta, singkatnya.., jadilah kita menginap.., eh salah..!, bukan menginap tapi hanya istirahat sebentar di penginapan yang masih di sekitaran kota bogor, entahlah.., semuanya mengalir saja tanpa rencana, tapi.., ya..! seperti itulah aku yang selalu hidup tanpa rencana, karena menurutku rencana hanya mengarahkan kita pada ke pura2an semata, aku jalani hidup menjalani rencana2 Allah, apapun itu..!, lama diri ini dalam keterpurukan yang datang silih berganti, sekelebat rasa bahagia..?? dan wuush.., hilang lagi diterpa angin.., itulah hidup, aku belajar dari apa yang tersirat, yang membuatku semakin kuat menerima tantangan masalah dunia.

Entahlah ini apa..!? yang mengantarkan kita dalam satu ruangan kamar, dan berada dalam satu ranjang, dimana kita berbicara dengan hati saling melepas rindu, dengan pelukan erat, melepaskan rasa yang telah lama tersimpan, seakan kita berdua sedang melepas dendam dari masa lalu.., dan pada akhirnya.., perbuatan yang tidak seharusnya itu terjadi, kamu dan aku terjebak, larut dalam rasa rindu yang sangat kuat, dimana saat itu yang ada hanya kita berdua, tidak mengingat siapa2 lagi, ya..!, kamu dan aku,,. Satu..!!

Aku yang kuat akan hal itu,  denganmu aku bukan siapa2, bersamamu aku lemah, ya, mungkin karena rasa yang sudah lama tersimpan dan pada akhirnya meledak saat bertemu dengan elemen senyawanya.., yaitu hatimu dan hatiku, dan saat2 itulah yang sampai sekarang terkenang kuat menempel di fikiran dan hatiku.

Ya Allah.., ampunila dosa2 kami berdua..,

Hari itu kita isi dengan kebahagiaan, tidak ada siapa2 waktu itu, hanya kamu dan aku, 24 jam kamu menemani aku, serasa tidak ada yang bisa memisahkan nya.., ada sedikit tanya dalam hati..?, sebegitu besarnya kah kamu ingin hidup bersamaku, dari apa yang sudah kita lakukan, begitu erat genggaman tanganmu seakan takut kehilangan aku, kamu tidak pedulikan mereka orang2 yang menyayangimu, karena aku mereka terkalahkan, ada perasaan bersalah dihatiku, aku sudah mencoba ingatkan bahwa kamu harus kembali ke keluargamu, tapi aku juga tidak memaksa karena terlalu takut untuk menyakitimu, jadinya 24 jam kamu bersamaku, 24 jam kamu menentang badai, semakin membuatku yakin atas kekuatan cintamu kepadaku, dan harus dengan apa aku hargai pengorbananmu.

Pada akhirnya.., stasiun K.A senen, Jum'at petang, 9 desember 2016.

Tiba saatnya mengakhiri hari2 kebersamaan kita, sangatlah berat untuk meninggalkanmu waktu itu, sebab kamu sudah berikan ikatan kuat pada jiwa dan ragaku dari apa yang sudah kita perbuat, dan sesuatu yang sudah kembali itu berontak ingin meninggalkan singgasananya, seakan ingin menduduki singgasana dihatimu, mungkinkah kamu juga merasakan itu..?, haruskah aku kehilangan separuh hatiku lagi, dan sesampainya aku disana, aku akan tersiksa.., bahkan lebih tersiksa lagi dari yang kemaren.

Hmmm..,

Tidak banyak kata yang terucap, aku lebih banyak mencermati dirimu seutuhnya, melekatkan dalam hati untuk kubawa pulang sebagai cinderamata dari pertemuan kita, apa yang sudah kita lalui bersama adalah kepedulianku wujud dari rasa cinta dan kasih sayang yang selama ini kusimpan abadi ditempat yang paling rahasia, yang hanya aku dan Sang pemilik hati yang tau.., saat2 terberat dalam hidupku.., detik2.., di saat aku mencium keningmu dan melepaskan genggamanku, "jaga dirimu baik2 ya..,", hanya itu yang bisa terucapkan dan aku bergegas pergi meninggalkanmu.., tanpa menoleh lagi.., aku kembali menyimpan rasa saat itu, menyimpan sebagai rahasia hati atas apa yang pada saat itu kufikirkan.., itulah wujud ketulusan yang bisa kulakukan, ketulusan atas kehilangan kamu lagi, ketulusan bahwa kamu bukanlah milik ku dan tidak akan pernah menjadi milik ku..,

Saat ini..,

Dengan kalimat2 yang kamu sampaikan, seakan membuat akhir hubungan ini lebih nyata, kamu mengubah status kita menjadi aku dan kamu, hari ketika dimana aku setiap hari menyesalinya, apa yang kamu sampaikan semakin membuat aku harus menjauh, pesan2 mu melemahkan aku, masih jelas dalam ingatanku saat kata2 manis dari bibirmu terucap manis untukku, saat celah jemarimu mengisi celah jemariku, dan saat2 kebersamaanku dengan kamu yang sempat terjadi.

Bagaimana perasaanmu sekarang..? setelah berusaha melupakan..? pasti jauh berbeda, pasti tidak sama lagi seperti saat itu, saat aku dan kamu masih menjadi kita, aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri kalau aku masih mengharapkan kamu, meskipun aku tahu itu tidak akan mungkin.

Aku yang memang masih sangat menyayangimu dengan sekuat tenaga berusaha mengikhlaskan, merelakan kamu, mendoakan agar kamu bahagia dengan orang yang ada disampingmu sekarang, aku hanya berpesan, jangan kamu biarkan dia merasakan sakit seperti apa yang kurasakan kini, aku tau kamu wanita baik..,

Oh iya.. selamat untuk kebahagiaan kamu ya.., aku ikut bahagia untukmu, semoga kamu bisa kembali mencintainya sepenuh hatimu.



Galipong

Sabtu, 07 Januari 2017

Aku kalah

Malam, aku ingin berdiam, aku ingin bungkam atas rasa ini, kali ini, sungguh aku tidak tau, apa yang menjadikanmu beda, aku tidak paham, atas yang tadinya sejalan lalu menjadi bersebrangan, aku tidak ingin disalahkan, karena aku yang paling kuat bertahan menjaga rasa ini, meski rasa ini menyakitkan, aku masih memiliki banyak kesabaran.

Menyesal..? tidak, meski apa yang aku perjuangkan jadi berantakan, apa yang ku impikan telah musnah, karena ketidak sabaran kamu.., aku mengalah dan membiarkanmu pergi karena aku sudah lelah untuk menahanmu.

Suatu saat nanti, kamu pasti tau jika kepergianmu saat itu adalah satu hal yang begitu ingin ku cegah, karena kamu adalah sesuatu yang aku perjuangkan meski akhirnya aku kamu tinggalkan, aku tidak lagi takut melepasmu, karena aku pernah mencoba memulihkan keadaan, mengembalikan apa yang aku rasa telah hilang dariku, dan nyatanya kamu tidak menghargai itu, jadi, aku mengalah melepas dan merelakanmu pergi, aku tau ini tidak mudah, tapi aku mengalah, karena aku tau, aku kalah.

Terima kasih sudah ikut mengisi cerita ini, yang bab akhirnya tetap sama dengan cerita terdahulu, mengecewakan, tapi aku tetap tidak menyalahkan dengan memasuk kan kamu di dalam kisah ini, bukankah tidak suatu keharusan akhir sebuah karya tulisan harus berakhir indah.., bahkan novel yang dijual di toko buku pun ada yang seperti karya tulisanku ini.., memang siih ada sedikit rasa jengkel, capek, campur2 lah, intinya tidak bisa dijelaskan dengan kata2.., yaa, mungkin sudah capek2 menulis tapi alur ceritanya melenceng dari judulnya.., kebanyakan ngopi kali, jadinya tidak fokus karena kurang tidur..

Sudah dulu ya..,

 Galipong