Waktu itu, di bogor, aku menemukan kesempurnaan dalam dirimu yang membuatku nyaman dan tidak terasa, hari2 kulalui dengan indah, tanpa seharipun terlewatkan, taukah kamu, aku merasa sedang bermimpi bisa bertemu kembali denganmu, wanita sempurna yang bisa menerima segala kekuranganku, bersamamu berbagi canda, tawa, sedih.
Meskipun beberapa orang terdekat mengatakan hubungan ini tidak akan ada ujungnya, karena adanya hukum adat, banyaknya perbedaan, juga jarak yang membentang namun aku begitu yakin padamu, ikatan batin kita begitu kuat hingga rasa yang terpisah bisa kita satukan kembali.
“Apakah ini pertanda bahwa kita berjodoh..? Aku nyaman bersamamu, bahkan dalam ketidak jelasan hubungan ini, entahlah.
Sampai saat inipun aku tidak bisa mengartikan hubungan ini, tapi yang pasti ada rasa sayang dihati, rasa cemburu, bahagia, curiga, selayaknya pasangan suami istri, kadang ingin kutanyakan perasaanmu yang sesungguhnya, tapi aku takut kamu marah, rasa takut kehilangan apa yang telah susah payah kubangun bersamamu, aku tersadar, sampai kapan menunggu, bukan saatnya lagi berdiam dalam hubungan yang abu abu, tapi sekali lagi, aku takut dan membiarkan semua pertanyaan dalam benakku menguap begitu saja.
Aku mengikuti setiap permainan yang kau ciptakan dalam hubungan ini, jujur kamu sosok wanita yang lembut, bahkan kamu sosok romantis seperti dalam novel yang sering kubaca, wanita yang bisa setiap saat menanyakan sedang apa, dimana? Atau buru buru menelfon saat kangen, selama kita bisa berkomunikasi dengan baik, aku merasa tidak ada jarak.
Aku paham betapa cueknya kamu dengan orang orang yang dijodohkan denganmu atau yang tergila gila padamu, aku bisa ko' menjadi sosok yang kamu percaya, untuk berbagi saja aku sudah bahagia.
Tapi semuanya berubah malam ini, entah kenapa tiba tiba kamu mendiamkanku, tidak kamu balas pesan, bahkan telfonku, meskipun HP mu aktif, tetap tidak kamu baca pesanku hingga saat aku menulis ini.
Kemaren aku bersikap seperti ini, tapi pada akhirnya, aku membalas pesanmu, tapi entah kenapa kali ini berbeda, kamu terlalu lama diam, jika dulu kamu bisa melewati hari2 disaat aku mendiamkan kamu, apakah kali ini aku sanggup..? Jika kau mendiamkanku lama..apa ini hanya sebuah ujian..? Jika jam telah berganti hari, dan kau masih tetap dengan diammu, tanpa sekalipun merespon pesanku atau menjawab telfonku, apakah aku sanggup melaluinya..?
Aku berusaha semampuku untuk memendam semua kecurigaan padamu, aku berusaha seolah tidak terjadi apa2, tetap menyapamu, menanyakan kabarmu..dan nanti mengingatkan sholatmu…, tidak sedikitpun berkurang perhatianku padamu, masih sama seperti dulu, dan saat ini. tanya muncul dalam hatiku..”apa salahku..?”
Aku mengecek kata demi kata terakhir kita berkirim pesan, semua normal..tidak ada kesalahan, yang salah justru sikapmu padaku saat ini, sampai kapan kamu akan menghukumku dengan diammu..?
Seandainya jarak hanya sejengkal, mungkin aku sudah dihadapanmu, mencoba membicarakan segala kesalah pahaman ini agar tidak lagi menyesakkan dadaku.
Lama aku berfikir.., hingga nyaris berada di ujung kesabaranku.
Lama aku berfikir.., hingga nyaris berada di ujung kesabaranku.
Baiklah..jika berbagai usahaku tidak juga menggerakkan hatimu, berarti memang aku harus pasrah dan memohon pada yang diatas untuk memberikan jalan terbaik bagiku, bagimu, bagi kita.
Eh.. Ada satu status teman yang membuatku tersentak.
“cinta itu diperlukan usaha dari kedua belah pihak. Jika hanya kamu yang berusaha mencari, berarti dia tidak mencintaimu”
Untukmu yang mendiamkanku..,
Jika memang ini sinyalmu untuk menjauh, baiklah, tidak perlu menjauh dariku, aku tahu cara melangkah mundur, dan seandainya ini untuk meyakinkan diriku kepadamu, sampai kapan ini berakhir..? Apakah setelah ini aku bisa naik kelas dari status abu abu ini menjadi milikmu seutuhnya..?
Hmmm..,
Sepertinya sudah saatnya aku pergi darimu dan saatnya aku berhenti berharap padamu, karna percuma semua itu, hanya menyakiti hatiku.
Kamu tau, aku ini siapa..? Ya, kamu benar.., aku bukanlah siapa2.
Maafkan aku jika selama ini tidak bisa menjadi seperti yang kamu minta, maaf jika aku hanya menyusahkanmu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar