Jumat, 23 Desember 2016

Terima kasih yuli..,

Masih terekam jelas awal pertemuan kita, tidak seperti kebanyakan orang , bukan di mall, restoran, atau pun cafe, tapi, kita duduk di gerbong yang sama untuk saling memandang, aku melihatmu, kamu melihatku, saat itu kita dalam perasa'an yang sama, yaa.., perasa'an rindu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata, hanya hati yang berbicara pada waktu itu.

22 tahun.., dan baru saat itu kita bisa bertatap muka kembali, awalnya memang kaku, tapi aku menikmatinya ketika dirimu menatapku dengan lembut, menjamah jemari-jemariku yang makin kaku karena kehadiranmu apalagi saat bibirmu melontarkan kata2 singkat padaku, itu saja sudah membuatku seperti berada di tempat indah, merasakan hangatnya tanganmu membuatku merasa begitu damai.

Waktu berlalu begitu cepat, hingga satu persatu lembaran tentang dirimu kutemukan, awalnya hati ini berdebar sekaligus senang saat menemukannya, kubaca perlahan, kucermati tiap goretan mengenai dirimu, hati ini serasa menciut bagai balon kehilangan udara, begitu banyak yang kamu miliki membuatku rendah diri, membuatku merasa tidak pantas untuk  menjadi kekasihmu lagi.

Awalnya ku pikir, dirimu adalah utusan Tuhan untuk mengobati goretan luka di hati ini, aku kira dirimulah yang dapat menghiasi ruang hati yang berantakan ini, aku kira dirimulah yang dapat membuatku melupakan segala rasa sakit yang lama menjeratku.

Tapi.., semua itu salah, bahkan hanya berharap saja rasanya aku tidak pantas, apalagi memikirkan untuk menjadi teman berbagi segala cerita kehidupan ini, karena mungkin, diluar sana ada seseorang yang lebih pantas bersanding denganmu, lebih pantas secara jasmani dan rohani untukmu.

Aku tidak tau bagaimana membahasakan perasaanku pagi ini, aku menyadari itu sebuah kesalahan, jika tidak kusadari mungkin setiap hari aku akan menumpahkan rasa itu, tapi apa dayaku rasaku hanya menepuk angin, dan akan ada luka yang mengiringi setelah kutumpahkan rasa itu, karena tiba-tiba akan menjadi kosong karena sebuah ‘kekejaman’, ya, kekejaman diriku atas kebahagia'an rumah tanggamu.

Maafkan aku yang hanya bisa mengusik harimu, membuatmu tidak nyaman dengan semua kata cinta yang kutujukan untukmu, maafkan aku, aku tidak bisa menyimpannya sendiri, aku tidak bisa..! dan jika akhirnya kamu menghapusnya sebenarnya tidak mengapa, aku sadar ini semua gara2 aku.

Terkadang aku berfikir untuk pergi dari hidupmu, tapi bagaimana bisa..? aku tidak pernah bisa, hingga kelak kamu yang akan memintaku pergi dan tidak mengusikmu lagi, karena bagiku apalah artinya, bahagia memilikimu kalau ternyata kamu tidak bahagia, percuma saja, sekarang aku sangat siap kamu lepaskan, tapi maaf jangan memintaku berhenti mencintaimu, itu tidak bisa kulakukan, aku benar-benar tak bisa..!

Ironisnya, akupun tidak ikhlas kamu berdampingan dengan dia, yang nyata2 dia adalah suami kamu, tidak ikhlas dan tidak pernah ikhlas..! tapi aku tidak pantas   berbuat itu kepadanya, kamu yang selalu menjaga diri dari dosa, tapi aku selalu datang sebagai iblis yang sangat mengerikan, jagalah dirimu sayang, jagalah dirimu dari dosa, harusnya kutanggung sendiri perih ini, tanpa melibatkanmu dalam ego ku.

Dan ini bukan salahmu, akulah yang telah bermain api, jika aku harus terbakar sendiri memang itulah yang seharusnya, aku berjanji sikapku yang mengusikmu takkan kuulangi lagi, hidup bahagialah sayang, meski aku harus memendam rasa dan menahan rindu hingga menyakiti hatiku, jangan pernah pedulikanku, aku hanya benalu dosa bagimu, jaga dirimu sayang, jangan pernah izinkan aku masuk lagi dalam hatimu, biarkan kutahan sendiri perasaanku, tidak usah kamu hiraukan, aku bukanlah lelaki yang baik untukmu, engkau lebih pantas mendapat yang terbaik dari yang terbaik. 

Doa tulusku untukmu, kelak semoga suamimu mencintaimu dengan penuh kehormatan dan harga diri, suami baik-baik, yang   bagus akhlaknya, yang tinggi derajatnya, alim tuturnya, yang bila dia tidak ada, kamu akan mencarinya, jika dia jauh kamu akan merindunya, jika sakit kamu akan sembuhkan lukanya, dia lelaki  yang menghargaimu dengan mencintai Tuhannya lebih dari diriku, yang jika kamu pandang akan menenangkan jiwamu.

Bagiku kebahagianmu adalah kebahagiaanku, dan kamu tidak perlu cemas dengan perasaanku, aku telah terbiasa seperti ini, terbiasa dengan sakit yang kuciptakan sendiri, kamu tidak boleh terlibat dalam perasaan keruhku, maafkan aku, sungguh aku minta maaf, jika bisa memilih, rasanya ingin kembali ke masa lalu dimana kita tidak harus saling mengenal, itu lebih baik buatku, daripada aku terus menerus mengusik kenyamanan hidupmu, tapi Sang Pemilik Cinta memilih menghadirkanmu di hatiku, dan sayangnya aku tidak cukup kuat memendam perasaanku, bukankah ini cukup menjadi petunjuk, bahwa aku bukanlah lelaki yang baik untukmu.

Tapi kuakui aku tak pernah menyesal mencintaimu, dan kebahagian luar biasa bagiku ketika engkau pernah izinkanku mengisi harimu, menjadi bagian dari hidupmu, meski pada akhirnya aku menyadari aku bukanlah lelaki yang pantas untukmu, maka benarlah, cinta tidak harus memiliki.  aku harus bangun dari mimpiku yang terlalu tinggi, aku harus lebih banyak bercermin diri, aku tidak pantas untukmu  lalu apa yang bisa kuperbuat untuk membayar semua salahku karena telah melibatkanmu dalam egoku ini..? Apapun akan aku lakukan.

Apakah aku harus pergi dari hidupmu..? akan kulakukan jika itu membuatmu bahagia, dan aku berjanji dan akan kupastikan takkan kubiarkan engkau tersentuh ketaknyamanan dariku ‘lagi’, yah meski aku sadar ini akan sangat berat untukku, tapi untukmu segalanya akan menjadi bisa. 

Hmm.., mungkin aku harus kembali memendam cinta, aku tidak boleh membiasakanmu dengan hadirku, karena kita tidak boleh bersama, kamu berhak mendapat yang lebih baik, yang lebih punya harga diri, tidak sepertiku, selalu ingin manja padamu, memaksamu mencintaiku seperti aku mencintaimu, cintamu tidak boleh dipaksakan, kamu harus bahagia dengan pilihanmu.


Terima kasih yuung…,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar